Bawang Putih 95 % Masih Impor, Terkendala Benih dan Riset

AYOBANGKA.COM, Bandung Barat — Komisi IV DPR RI menyoroti tingginya ketergantungan impor bawang putih yang masih mencapai sekitar 95 persen dan menilai target swasembada belum didukung kesiapan hulu, khususnya ketersediaan benih unggul serta penguatan riset pertanian.

Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto, atau yang biasa disapa Titiek Soeharto menegaskan, komoditas bawang putih tidak bisa terus bergantung pada impor karena merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Namun, upaya swasembada dinilai belum menyentuh akar persoalan utama, yakni ketersediaan benih unggul.

Baca Juga  7 Tahun Nelayan Menunggu Alur Dermaga Pulau Sumedang Dikeruk

“Kalau kita ingin swasembada bawang putih, tidak bisa terus-terusan impor. Kuncinya ada di benih. Tanah kita tidak bermasalah, tapi benih unggulnya belum tersedia,” ujar Titiek saat kunjungan kerja spesifik Komisi IV ke Balai Perakitan dan Pengujian Tanaman Sayuran (BRMP) di Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis, (9/4/2026).

Ia menjelaskan, potensi produktivitas bawang putih sebenarnya cukup tinggi. Dalam kondisi optimal, satu hektare lahan dapat menghasilkan hingga 20 ton. Namun di lapangan, produksi petani saat ini rata-rata masih berkisar 7 hingga 10 ton per hektare akibat keterbatasan kualitas benih.

Baca Juga  Pj Gubernur Suganda Buka Rakor Pengawasan Ketahanan Pangan

“Artinya kita kehilangan potensi hampir dua kali lipat. Ini bukan soal lahan, tapi kualitas benih dan dukungan risetnya,” tegasnya.

Kapasitas Benih

Berdasarkan paparan mitra BRMP Sayuran, kapasitas produksi benih bawang putih nasional masih jauh dari kebutuhan. Pada 2025, produksi benih bawang putih yang dihasilkan baru sekitar 11 ton untuk mendukung rencana tanam 2026.

Produksi tersebut tersebar di sejumlah wilayah seperti Lembang, Temanggung, Tegal, hingga Berastagi, namun skalanya masih terbatas. Sementara itu, kebutuhan nasional jauh lebih besar, sehingga ketergantungan terhadap impor masih belum dapat ditekan.

Baca Juga  Petani, Poktan, Gapoktan dan BPP Berprestasi 2023 Dapat Penghargaan dari Pj Gubernur Safrizal

BRMP sendiri memiliki lahan terbatas yang tersebar di Margahayu (±39 hektare), Berastagi (±25 hektare), dan Serpong (±3 hektare). Namun tidak seluruh lahan tersebut dapat dimaksimalkan untuk produksi benih karena sebagian digunakan untuk fasilitas penelitian dan pengelolaan sumber daya genetik.

Anggaran Riset

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *