Beep Poliphonic

Oleh: Subhan Ahmadi Abu Haitsam
Alumnus PP al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta

Senyum-senyum sendiri ketika mengingat suatu masa, ketika dering telepon, atau lebih tepatnya beep poliphonic hp jadul, yang waktu itu tentu tidak jadul, terasa begitu dramatis, dag dig dug, ketika membuka laman sms, karena itu dering yang sudah disetting berbeda bunyinya dari yang lain. Iya, itu beep khusus si dia yang kira-kira 2 bulan lagi kita akan berakad nikah. Indah, seru, tapi sekarang terasa lucu dan menggelikan.

Baca Juga  Lelaki di Sudut Lorong

Lebih syahdu lagi kala itu kita lagi suka-sukanya group musik ‘edcoustik’. Yang syairnya selalu syair cinta dalam sentuhan syar’iy. Menambah bunga-bunga cinta itu begitu harum. Kini masih terasa sih, tipis-tipis.

Tapi semua itu bukan cinta yg sebenarnya kawan. Itu adalah ‘bunga cinta’, Cintanya sendiri masih tersembunyi sangat dalam sampai dia terkuak di suatu waktu. Dan sayangnya banyak pasangan tidak menemukan the cinta itu. Bahkan ada banyak yang ‘give up’ dan mematahkan tangkainya sebelum menemukannya, mungkin karena salah kaprah memahami bunga itu dianggap sebagai hakikatnya, sementara ketika menggali hakikat cinta itu, harum bunganya sering hilang tertelan deru zaman. Kesabaran meraih cinta sejati pun putus di tengah jalan. Kasihan.

Baca Juga  Presiden Soekarno Pernah Salat di Masjid Jami’ Belinyu

*Mendapatkan cinta tidaklah mudah*. Ketika tuntutan hidup begitu berat. Ketika rengekan anak yg rewel membuat pusing sang ibu. Ketika biaya sekolah anak² begitu menghimpit dan mau gimana lagi, belum bisa bayar atau memberanikan diri berhutang. Ketika sang istri mulai cemberut karena kebutuhan sehari-hari terasa kurang.

Atau lebih sulit lagi ketika istri atau suami harus merawat pasangannya yang sering sakit-sakitan, atau bahkan kronis. Ketika harus menerima kenyataan pahit sang suami kehilangan pekerjaan karena di-phk.

Baca Juga  Aku dalam Puisi Ibuku

Atau friksi dengan keluarga besar, ketika berdua harus berjuang melawan badai fitnah yang mungkin saja terjadi.

Ketika itu semua terjadi, di mana kesyahduan asmara berada? Apakah ketika itu kamar tidur masih menebar aroma romantisnya? Masihkah hadiah coklat Cadbury tanda sayang memiliki kesakralannya?

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *