Dunia Mulai Berdamai dengan Nuklir: Saat Ketakutan Kalah oleh Kebutuhan Energi

Selama puluhan tahun, kata nuklir hampir selalu identik dengan rasa takut. Bayangan bom atom, kecelakaan reaktor, hingga limbah radioaktif kerap lebih menonjol dibanding manfaatnya. Namun dunia tidak pernah diam. Ketika krisis energi, perubahan iklim, dan mahalnya harga listrik menjadi persoalan nyata, cara pandang masyarakat global pun perlahan berubah.

Sebuah survei internasional terbaru menunjukkan fakta menarik sekaligus penting: dukungan publik terhadap energi nuklir tetap tinggi dan bahkan jauh lebih besar dibanding penolakannya.

Survei tersebut dilakukan oleh Savanta, lembaga riset internasional, atas nama Radiant Energy Group. Studi bertajuk Public Attitudes toward Clean Energy (PACE) Index ini melibatkan hampir 32.000 responden dari 31 negara, mewakili hampir dua pertiga populasi dunia. Hasilnya cukup tegas dan sulit diabaikan: 46% responden mendukung penggunaan energi nuklir, sementara hanya 23% yang menolak.

Baca Juga  Kawal Hasil Pilkada 2024 Babel, Jangan Ganggu KPU Selesaikan Tugas

Dengan kata lain, jumlah masyarakat yang mendukung nuklir dua kali lipat lebih banyak dibanding mereka yang menentangnya.

*Dukungan Global yang Semakin Nyata*

Yang menarik, dukungan terhadap nuklir tidak hanya datang dari negara-negara maju, tetapi juga dari negara dengan kebutuhan energi besar dan pertumbuhan ekonomi pesat. Di China, Polandia, dan Rusia, tingkat dukungan publik bahkan tiga kali lebih besar dibanding penolakan. Secara keseluruhan, 22 dari 31 negara yang disurvei memiliki net support positif terhadap energi nuklir.

Lebih jauh lagi, survei menunjukkan bahwa lebih dari tiga kali lipat responden ingin mempertahankan atau memperluas penggunaan nuklir dibanding mereka yang ingin menghentikannya. Di banyak negara, lebih dari 40% masyarakat mendukung pembangunan pembangkit nuklir baru.

Fakta ini memperlihatkan satu hal penting: energi nuklir tidak lagi dipandang semata sebagai ancaman, melainkan sebagai solusi nyata di tengah krisis energi dan iklim global.

Baca Juga  Pasca Pencoblosan, Apa Kabar Kasus Korupsi ?

*Murah, Stabil, dan Andal di Tengah Krisis*

Salah satu temuan paling menarik datang dari negara-negara yang sebelumnya justru mematikan pembangkit nuklir mereka, seperti Jerman, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Swedia. Di negara-negara ini, nuklir kini dipandang sebagai teknologi paling positif untuk menurunkan biaya listrik, bahkan lebih baik dibanding energi angin dan surya.

Alasannya sederhana. Energi terbarukan seperti surya dan angin memang ramah lingkungan, tetapi sangat bergantung pada cuaca. Ketika matahari tidak bersinar atau angin tidak bertiup, pasokan listrik bisa terganggu. Nuklir, sebaliknya, mampu menyediakan listrik stabil selama 24 jam, dalam jumlah besar, dan dengan emisi karbon yang sangat rendah.

Baca Juga  Langkah Tegas Cagub Hidayat Arsani Layak Diapresiasi

Tak mengherankan jika di negara-negara seperti Prancis, Finlandia, Swedia, dan Belanda, dukungan publik terhadap subsidi pembangunan nuklir setara dengan dukungan terhadap energi terbarukan.

*Ketakutan Masih Ada, Tapi Mulai Rasional*

Meski dukungan publik tinggi, survei ini juga jujur mengungkap sisi lain: 86% responden masih khawatir terhadap aspek keselamatan dan kesehatan. Kekhawatiran mengenai limbah nuklir juga tetap kuat di hampir semua negara.

Namun terdapat pola yang menarik. Negara-negara yang memiliki solusi pengelolaan limbah yang jelas dan transparan menunjukkan tingkat kekhawatiran publik yang lebih rendah. Finlandia, misalnya, dengan fasilitas penyimpanan limbah Onkalo, memiliki tingkat kepercayaan publik yang tinggi. Hal serupa terlihat di Belanda dengan fasilitas COVRA, serta negara-negara yang memiliki perjanjian pengelolaan bahan bakar bekas lintas negara.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *