Oleh: Farid Gaban
Ekspedisi Indonesia Baru
Di Waesano, Flores, saya bertemu petani yang tidak biasa. Namanya Yosef Erwin.
Untuk kepentingan proyek geotermal pemerintah, Yosef diminta pergi dari lahannya dan akan dikasih “ganti untung”. Tawarannya cukup bagus, ratusan juta rupiah.
Tapi, Yosep tidak segera menerimanya. Dia merenung dan coba menghitung-hitung. Kebun miliknya berisi banyak pohon: ada kemiri, cengkeh, durian serta buah lainnya.
“Pohon-pohon itu masih akan berbuah sampai anak cucu saya,” katanya. “Coba saja hitung hasilnya selama puluhan tahun ke depan.”
Dan itu baru sebagian saja. Menurut Yosef, apa saja yang tumbuh di bawah pohon juga ada nilainya. “Rumput bisa untuk ngasih makan kambing dan sapi,” katanya.
Lalu, kata dia, ada juga tanaman rempah seperti jahe dan aneka jenis jamur yang tumbuh ketika penghujan. “Bisa dimakan atau untuk obat.”
“Lahan saya ini, dan semua tanaman di dalamnya, tak ternilai,” kata Yosef. “Tapi, kalau mau diuangkan, harganya Rp 26 milyar lebih, bukan cuma ratusan juta rupiah.”
Mematok harga seperti itu sebenarnya cara Yosef menolak melepaskan lahan.
Penganut Katolik taat, orang Flores percaya bahwa tanah adalah titipan leluhur yang tidak layak diperjualbelikan. Lebih dari itu, keragaman hayati tanaman adalah kekayaan tak ternilai.
Saya bertemu petani dengan pandangan serupa di Desa Wadas, Jawa Tengah. Pak Marsono namanya.
Lahan pertanian Desa Wadas sedang digusur untuk tambang andesit guna membangun Waduk Bener, proyek strategis nasional Pemerintahan Jokowi.
Marsono menolak tawaran ganti rugi. “Kami sudah sangat bahagia dengan apa yang kami punya. Desa ini sangat subur dan sumber air melimpah,” katanya.
“Uang semilyar atau dua milyar rupiah akan segera habis,” kata Marsono. “Sementara kebun saya akan bisa menghasilkan hingga anak-cucu.”
Marsono belajar dari cerita sedih petani Bojonegoro, Jawa Timur, yang menghabiskan uang ganti rugi penggusuran milyaran rupiah hanya dalam satu-dua tahun lalu gigit jari setelahnya.






