Nama Fukushima selalu membawa beban berat. Bagi Jepang, ia bukan sekadar lokasi geografis, melainkan simbol trauma nasional akibat bencana nuklir terbesar sejak Chernobyl. Lima belas tahun setelah gempa dan tsunami dahsyat 2011 meluluhlantakkan PLTN Fukushima Daiichi, Jepang kini berada di persimpangan sejarah: kembali mengandalkan nuklir, berdampingan dengan energi terbarukan.
Keputusan ini bukan tanpa kontroversi. Seperti diberitakan The Guardian, pemerintah Jepang secara terbuka mengubah arah kebijakan energinya. Jika pasca-Fukushima Jepang menutup puluhan reaktor dan menjauh dari nuklir, kini negara tersebut justru berbicara tentang “maksimalisasi” energi nuklir. Targetnya jelas: pada 2040, nuklir akan menyumbang sekitar 20% bauran energi nasional, dengan sekitar 30 reaktor beroperasi penuh.
Bagi sebagian orang, keputusan ini terasa pahit. Namun bagi Jepang, ini adalah pilihan yang lahir dari realitas.
Ketika Trauma Bertabrakan dengan Kebutuhan Energi
Pasca penutupan reaktor nuklir, Jepang terpaksa bergantung pada impor energi fosil. Negara ini menjadi salah satu importir gas alam cair (LNG) dan batu bara terbesar di dunia. Konsekuensinya tidak ringan: biaya energi melonjak, emisi karbon tinggi, dan ketahanan energi melemah.
Padahal, Jepang adalah negara industri dengan konsumsi listrik besar. Tanpa pasokan energi yang stabil dan terjangkau, roda ekonomi tidak bisa berjalan optimal. Energi terbarukan memang tumbuh, tetapi Jepang menyadari satu kenyataan penting: surya dan angin saja tidak cukup.
Inilah mengapa Jepang memilih jalan tengah yang sulit tetapi rasional: memperkuat energi terbarukan sambil menghidupkan kembali nuklir dengan standar keselamatan yang jauh lebih ketat.
Dari Luka Menjadi Laboratorium
Ironisnya, Fukushima—daerah yang paling menderita akibat nuklir—justru kini menjadi simbol transformasi energi Jepang. Ladang angin Abukuma yang membentang di punggung pegunungan, pembangkit panas bumi di Tsuchiyu Onsen, hingga panel surya yang berdiri di atas lahan bekas permukiman, menjadi bukti bahwa trauma tidak selalu berujung penolakan.
Pemerintah prefektur Fukushima bahkan menargetkan 100% energi terbarukan pada 2040. Warga, pelaku usaha, dan pemerintah daerah bergerak bersama. Energi tidak lagi hanya diproduksi untuk kota besar seperti Tokyo, tetapi juga dikonsumsi secara lokal—untuk balai kota, proyek perikanan, hingga usaha kecil.
Namun, di tingkat nasional, Jepang tetap realistis. Energi terbarukan akan tumbuh hingga 40–50%, tetapi nuklir tetap dipertahankan sebagai penopang sistem. Jepang belajar dengan cara yang pahit, tetapi tidak memilih berhenti.
Pelajaran Penting
Apa relevansinya bagi Indonesia? Indonesia juga bukan negara tanpa trauma atau ketakutan. Setiap kali nuklir dibicarakan, bayangan Fukushima dan Chernobyl sering muncul lebih dulu. Padahal, kondisi energi Indonesia hari ini semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi, hilirisasi industri, dan transisi energi menuntut pasokan listrik yang besar, stabil, dan bersih.








