Jurnalisme Harapan

Farid Gaban. Istimewa/Net

Oleh Farid Gaban

DUA PEKAN lalu saya nonton liputan TV NHK Jepang tentang aliran jurnalisme baru: Journalism of Hope (atau Jurnalisme Harapan).

NHK meliput praktek jurnalisme di tingkat lokal, di kota-kota kecil Amerika, Jepang dan Denmark. Ini sebenarnya bukan praktek yang secara substansial baru sama sekali. Melainkan menekankan beberapa prinsip jurnalisme yang membuatnya relevan di era sekarang.

Seperti kita tahu, era internet dan sosial media telah memporak-porandakan dunia media secara umum. Banyak koran dan majalah besar bangkrut, bahkan televisi serta radio juga kian menyusut perannya.

Baca Juga  Bioskop Warga

Sementara itu, media online yang dikelola oleh korporasi besar juga dipandang tidak memiliki cukup manfaat bagi masyarakat. Dengan sedikit pengecualian, media online terjebak hanya menyajikan click-bait serta berita-berita permukaan yang cenderung sensasional.

Peran media arus-utama sudah mulai luntur bahkan sebelum kehadiran internet. Alih-alih memperkuat perannya sebagai “pilar demokrasi”, banyak media (khususnya televisi) terjebak menyajikan infotainmen dan sensasi konflik yang mengalihkan perhatian publik dari masalah-masalah penting keseharian yang dihadapi banyak orang.

Baca Juga  Berdiri Patung Motor 10 Kali Tinggi Monas

Berita-berita permukaan dan sensasional cenderung menghilhami polarisasi politik ketimbang membekali warga dengan pengetahuan esensial untuk bisa berpartisipasi dalam kebijakan publik.

Media makin kehilangan relevansinya bagi masyarakat luas. “Jurnalisme harapan” diharapkan bisa mengembalikan pamor jurnalisme.

Tapi, apa sebenarnya “jurnalisme harapan” itu? Liputan NHK menunjukkan bagaimana jurnalis di tingkat lokal memakai prosedur “problem-solving” untuk membangun ikatan yang lebih kuat dengan komunitasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *