SETELAH wilayah Anatolia dikuasai Timur Lenk, dia mulai mengenal Nasrudin Hoja karena merupakan sufi yang terkenal. Timur Lenk pun kerap memanggil Nasrudin ke istana untuk berbincang soal kekuasaannya.
“Nasrudin,” katanya Timur Lenk pada suatu hari, “Setiap khalifah di sini selalu memiliki gelar dengan nama Allah. Misalnya: al-Muwaffiq Billah, al-Mutawakkil Alallah, al-Mu’tashim Billah, al-Watsiq Billah, dan lain-lain. Menurutmu, apakah gelar yang pantas untukku ?”
Mendengar pertanyaan Timur Lenk yang tak terduga ini, Nasrudin pun sesaat terdiam dan berpikir keras. Sebab, pertanyaan ini sangat sulit dijawab. Apalagi dia tahu persis, bila Timur Lenk adalah penguasa dan pemimpin bala tentara yang bengis. Timur Lenk bisa bertindak buruk kepadanya bila tak puas atas jawabannya.
Namun kebimbangan Nasrudin hanya berlangsung sesaat. Tak lama kemudian dia telah menemukan jawabannya.
“Saya kira, gelar yang paling pantas untuk Anda adalah Naudzu-Billah (Aku berlindung kepada Allah,red) saja,” jawabnya tenang. Timur Lenk mengangguk-angguk setuju. Nasrudin pun senang.
Timur Lenk di Akhirat
Tak puas dengan pilihan pemberian gelar sebagai pemimpin ‘Naudzu Billah’ dari Nasrudin Hoja, Timur Lenk kemudian meneruskan perbincangan soal kekuasaannya. Dia kemudian bertanya:








