Oleh: Fakhruddin Halim
(Penikmat Seni Arsitektur)
Artikel ini untuk pertama kalinya dimuat di salah satu media online pada awal 2021. Namun belakangan jejak itu raib. Malam ini, sembari bermalam mingguan bersama anak anak, saya menemukan artikel ini terselip di antara ribuan file di laptop.
ANTONIUS USTON bermain-main dengan pensil dan kertas gambar dalam sketsa terbarunya. Ia masih setia pada sketsa arsitektur meski dunia arsitektur kini sudah bergeser kepada gambar teknik yang tegas dan rumit atau gambar rendering 3D yang ciamik.
Batu Satam berukuran jumbo itu bertengger di atas altar yang ditopang enam tiang kokoh.

Di bawah satam yang sedang dipersembahkan itu, taman bundaran ditumbuhi aneka bunga dan pepohonan perdu, dua orang berdiri menghadap batu ‘meteor’ itu dan dua orang berboncengan sepeda motor jenis vespa tampak lewat. Sebaris tulisan mencolok menghiasi gambar sketsa dengan latar belakang putih, jingga itu.
Sketsa karya arsitek seniman Antonius Uston berjudul Satam Square Belitong itu menampilkan gambar tugu satam di jantungnya Kota Tanjungpandan.
Gambar itu merupakan satu di antara puluhan karya sketsa terbaru Antonius yang dilahirkan sejak setahun terakhir. Karya-karya ini lahir setelah lima belas tahun dunia arsitektur ditinggalkan Antonius.

“Satam Square Belitong adalah ikon utama Kota Tanjungpandan, kampung saya. Batu satam identik dengan Pulau Belitung,” kata Antonius, Jumat/12/02/2021, ketika bertandang ke kediaman penulis menyerahkan karyanya tersebut sebagai hadiah.
Sejumlah sumber menyebutkan penemuan batu satam oleh penambang timah tahun 1973 di kedalaman lima puluh meter di Kecamatan Kelapa Kampit, Belitung Timur.
Adalah Sa Tam nama penemu batu tersebut dijadikan sebagai nama batu langka dan unik itu. Secara harfiah Sa berarti pasir, Tam berarti empedu. Jadi Satam berarti empedu pasir.
Nama lain dari Satam adalah Taktine yang sering digunakan para peneliti dan Billitonit digunakan oleh seorang peneliti Belanda Wing Easton pada tahun 1922.
Kesan sisa geologi mendominasi karakter sketsa Antonius. Mengapa bukan ikon timah yang diletakkan di atas altar itu? Bukankah riwayat penambangan timah hampir sama tuanya dengan sejarah peradaban Belitung?
Barangkali gagasan itu sengaja ditenggelamkan sejak awal hingga tak bersisa. Sebab, ada semacam kekecewaan bagi warga Belitung yang masih membekas, ketika Belitung ditinggalkan begitu saja.
Batu satam dapat pula bermakna sebagai simbol kebangkitan Belitung dengan pariwisatanya yang melesat. Satam pun diburu para kolektor dan wisatawan untuk dijadikan koleksi dan buah kerajinana tangan. Bukan saja karena langka, tapi batu hitam dengan bentuk khas itu memiliki nilai estetika dan ada pula yang meyakininya nilai magis.








